Joedha's Blog

Mempelajari berbagai keunikan kehidupan dan menuangkannya ke dalam lembaran blog ini

Mengantarkan Ayah

“Tolong, jangan bawa ayah dulu, Andita belum datang!” kata Tina kepada seorang pria berpeci yang datang menghampirinya.

“Ini udah mau magrib, Tin. Kita enggak boleh…” ujar Asti, kakak Tina, sebelum ucapannya dipotong, sambil membawa baskom yang sudah berisi banyak uang.

“Sudah, biarlah kita menunggu Andita dulu. Dia juga pasti buru-buru. Jangan sampai dia enggak liat ayah kalian,” kata Gino, paman mereka.

Jarum jam memang sudah menunjuk pukul 04.30 sore. Tiada kemarau saat itu. Hujan pun masih enggan meninggalkan jejak rintiknya di tanah. Suara-suara di dalam rumah Tina masih bergemuruh oleh sedu-sedan itu.

Hanya angin yang berembus lembut dan mencoba mendinginkan suasana haru yang sejak pukul 09.00 pagi muncul.

*****

“Gino, kamu sudah mengurus administrasinya?” tanya Rusti, kakak Gino.

“Sudah. Gimana kondisi Mbak Ani?”

“Tadi sempat tidur. Tapi pas bangun, dia nangis lagi,” kata Rusti sambil menambahkan, “Sudah telepon Andita? Lagi di mana dia sekarang?”

“Sudah kutelepon berkali-kali, handphone-nya enggak aktif. Mungkin masih di pesawat.”

Tak berapa lama kemudian, telepon seluler Gino berbunyi. Ternyata ada pesan pendek dari Andita.

“Om, Dita sdh smpe di Jkt. Skrng sdng naik taksi. Jgn bawa ayah dulu ya, Om. Kr2 15 menit lagi Dita smpe rmh,” begitu isi pesan singkatnya.

Pukul 16.55.

Semakin waktu berjalan, semakin riuh seisi rumah itu. Senja saat itu seharusnya memerah. Namun tampaknya awan kumulonimbus tidak memberikan toleransi lantaran ia sudah tidak cukup kuat menggantung gumpalan butir air yang segera dimuntahkannya.

Tetesan air serupa jarum pun mulai berjatuhan dan mengiringi sungai air mata yang sudah mengalir deras di dalam rumah itu. Andita, yang masih berada di dalam taksi, semakin panik melihat sapuan angin yang begitu kencang di luar sana. Tapi ia mencoba tidak menitikkan air mata, meski di dalam hatinya sebenarnya ingin sekali menumpahkan ratusan liter air tangisan, setelah menerima kabar itu.

*****

“Pak Gino, kapan kita mulai….”

“Tunggu sebentar Ustad. Satu anak Pak Burhan sedang di jalan. Jangan sampai dia melewati semua ini,” ucap Gino, memotong perkataan ustad Sidik.

“Ayah, Ayah mau kan tunggu Andita? Andita ingin sekali bertemu Ayah. Ayah juga pasti ingin bertemu dengan Andita, kan?” ujar Tina, kakak Andita, sambil menatap wajah Ayah.

*****

Di dalam taksi, Andita masih terpaku. Tak tahu apa yang memenuhi pikirannya. Hingga akhirnya dia terbawa ke sebuah dunia yang tak pernah dilihatnya, dunia yang hanya ada sepasang manusia. Bukan pasangan yang sedang memadu kasih menikmati putihnya cinta, melainkan seorang ayah dan anak.

Saat itu dia terhenti di depan sebuah pendopo yang dikelilingi pepohonan rindang, beratap bukan lagi kumpulan warna, melainkan kumpulan pelangi dengan jutaan warna yang menyejukkan mata.

Andita berjalan setapak demi setapak beralas hamparan dedaunan kering, bermandi embun, dan berselimut udara dingin. Pendopo itu tampak semakin mendekat, membuatnya penasaran untuk melihat sang penghuni.

“Ayah… Ayah!” ujarnya, berbisik.

Mungkin terdengar samar-samar di telinganya, laki-laki itu menoleh.

“Dita,” ucap laki-laki itu sambil tersenyum, tapi tidak tampak terkejut setelah melihat Dita.

Kedua mata Andita mulai menjelajah setiap sudut pendopo itu. Dia mencoba mencari kejanggalan di tempat yang dihuni mirip dengan ayahnya itu.

“Ayah ngapain di sini?” tanya Andita.

“Ayah sedang menikmati indahnya dunia dari pendopo ini. Dunia yang selama ini tidak pernah ayah rasakan.”

Pikiran Andita masih dilamun kebingungan dan keraguan.

“Kamu pasti kaget atau mungkin bingung melihat ayah dan sekelilingmu. Ke sinilah, ayah ingin memastikan kamu memegang ayah. Ayah kangen sama kamu.”

Andita pun mendekat seperti tersedot oleh aura sang ayah yang diliputi cahaya sehingga membuat wajahnya bersinar.

“Tapi kenapa di sini?” tanya Andita, heran, sambil sesekali meletakkan pandangannya di setiap sudut tempat, yang mungkin, antah-berantah ini.

“Ayah menunggu kamu dari tadi. Ayah kasihan melihat ibumu yang terus-terusan nangis. Belum lagi si Tina. Ayah tidak tahan dengan keriuhan di rumah. Ayah ingin berada di tempat yang sepi, seperti di sini, sambil menunggu kamu. Ya, setelah tiga tahun.”

“Lalu, kalau Ayah di sini, bagaimana dengan keluarga di rumah? Pasti mereka mencari Ayah,” ucap Andita.

“Mereka tidak perlu mencari. Mereka pasti tahu kok ayah di mana.”

Semakin bingung. Andita semakin mengernyitkan dahinya. Setahu dia, di dekat rumahnya tidak ada pendopo seperti ini. Apalagi pepohonan yang rindang dengan langit yang begitu berwarna. Indah. Juga udara segar dan basah oleh sapaan embun.

“Ayah ingin menjadi orang yang menderita kelainan jiwa, telanjang mengitari jalanan, tertawa terbahak-bahak, tidak memikirkan dosa, atau apa pun yang berkaitan dengan indahnya kebebasan. Ayah bosan menjadi budak harta dan korban kezaliman orang-orang yang menganggap ayah seorang rentenir atau koruptor kelas kakap yang bisa membayar siapa saja demi menjaga gengsi dan terbebas dari jeratan hukum.”

“Ayah tidak harus menjadi seperti itu. Setiap orang punya kesalahan. Dan setiap orang pasti pernah disalahkan, meski dia tidak bersalah,” ucap Andita.

“Ayah tahu. Sekarang pun ayah tidak bisa mencapai keinginan itu. Seperti semua sudah terlambat. Sangat kecil kemungkinan bahwa petir bisa menyambar dua kali di tempat yang sama. Tak ada kesempatan lagi.”

Memang, tiga tahun adalah masa yang lama bagi Andita dan Ayah yang tidak sempat bertemu. Andita, yang sibuk mengasah ilmu di luar kota, selama tiga tahun belum bertemu dengan ayahnya, yang menderita komplikasi jantung.

“Tapi Dita harap, Dita tidak terlambat untuk bertemu dengan Ayah. Dita juga kangen sama Ibu.”

Andita, yang masih mengamati wajah ayahnya secara saksama, tiba-tiba dikejutkan oleh munculnya cahaya dari balik salah satu pohon di sekitar pendopo.

“Itu cahaya apa, Yah?” Andita bertanya.

Sejenak, suasana hening. Ayah belum berani berkata apa-apa. Andita pun terusik oleh perasaan tanda tanya.

“Ah, sebenarnya ayah masih ingin bersama kamu. Bercengkerama dengan kamu. Tapi jatah ayah sudah tinggal hitungan detik. Ayah harus pergi.”

“Ayah mau ke mana? Apa aku boleh ikut?” kata Andita.

“Ayah tidak ingin kamu menjadi orang kedua yang merepotkan keluarga. Ayah juga tidak ingin kamu mengantarkan ayah ke sana.”

Ayah pun beranjak dari duduknya dan berjalan perlahan menuju cahaya itu. Sesekali ia menoleh dan tersenyum ketika melihat Andita. Cahaya itu pun mulai tampak memeluk Ayah dari kejauhan. Andita, yang sedari awal berharap sebuah jawaban, terperangah sendiri ditemani tetesan air mata yang mulai meluber memenuhi lekuk-lekuk wajah halusnya.

*****

“Bagaimana keadaan adik saya, Dok?” tanya Tina.

“Ternyata Tuhan masih maha penyayang. Dia masih memberikan kesempatan kepada adik Anda untuk hidup. Tapi, untuk sementara, kami harus memberinya ventilator, karena fungsi pernapasannya masih bermasalah. Kami juga harus memberinya gips di lehernya lantaran ada keretakan di tulang lehernya,” kata Dokter.

Tepat di kamar nomor 2-A VIP di sebuah rumah sakit, Andita terbaring. Kondisinya cukup parah. Bahkan sekadar menggerakkan tangannya pun dia perlu bantuan seseorang. Namun, meski beberapa organ tubuhnya belum berfungsi secara optimal, di dalam pikirannya, dia masih mampu menyimpan memori ketika hanya beberapa saat bersama ayahnya.

“A…yah. A…yah,” ucap Andita terbata.

“Dita… Dita… ini Mbak-mu Dit,” Tina, yang berada di sebelah Andita, mencoba menyadarkannya.

Kilatan-kilatan cahaya serupa semut masih memenuhi pandangan Andita.

“Mbak, A…yah di…mana?”

Dengan raut penyesalan dan bimbang harus berkata apa, akhirnya Tina menceritakan semua. Bercerita bahwa jasad Ayah sudah dikubur sebelum Andita sampai di rumah dan belum sempat mengantarkan Ayah ke liang lahat, bahkan melihat wajah sang ayah untuk terakhir kalinya sekalipun.

Andita pun tidak bisa menahan tangis di tengah rasa sakitnya setelah mengalami kecelakaan saat menumpang taksi menuju rumahnya.

*****

Di dalam tidurnya, Andita sempat bertemu dengan ayahnya, yang berselimut pelangi dan ratusan sayap kecil melaikat.

“Dita, ini ayah.”

“Ayah, aku ingin ikut Ayah. Izinkan aku ikut Ayah. Atau paling tidak, mengantarkan Ayah sampai ke sana.”

“Dita, kamu harus tetap menjalani sisa-sisa hidup kamu. Kamu jangan pernah berharap sebuah kematian. Semua sudah digariskan. Berdoa saja untuk ayah. Minta kepada-Nya agar Dia menangguhkan semua dosa ayah.”

*****

“Ayah, aku minta maaf. Andai saja kecelakaan yang menimpaku tidak terjadi, aku pasti bisa ikut mengantarkan jasad Ayah sampai ke liang lahat. Tapi aku gembira sempat melihat Ayah di dalam ketidaksadaranku. Mudah-mudahan Ayah melihatku mengantarkan bunga ini dan menaruhnya di atas rumah Ayah yang baru. Semua kasus Ayah telah dibatalkan. Semoga Ayah tidak menemukan kehidupan seperti di dunia ini saat di surga sana. Ayah benar, aku harus menjalani sisa-sisa hidup ini, meski harus di atas kursi roda. Setiap aku terbangun dari tidur, aku selalu berharap, semoga malaikat masih membiarkan roh ini bersemayam, setidaknya sampai besok atau lebih dari dari hitungan hari.” Perlahan Andita mengayuh kursi rodanya dengan kedua tangan, berbalik menyusul Ibu, Tina, Dan Asti, yang sudah menunggunya di pelataran parkir tempat pemakaman umum.

Single Post Navigation

4 thoughts on “Mengantarkan Ayah

  1. Tannia on said:

    Hai, mas Joedha.
    Kayaknya cerpennya bagus deh.
    cuma baca skimming aja sih.
    boleh nanya ga?
    gimana sih bikin link-link kayak di blog ini?
    contohnya yang ‘apa kamu tahu?’, ‘kesehatan’, dll.
    saya pernah coba bikin tapi nggak bisa-bisa.
    thx.
    balas ke blog saya aja.
    http://www.detektifbotol.blogspot.com

    • Tania, maaf baru aku baca. Kalo di blogspot.com kayanya aku kurang tau soal hal teknis kayak gitu. Coba aja utak-atik, pasti bisa. Aku juga baru bisa ngeblog n sampe sekarang masih terus belajar lebih jauh soal settingannya.

      oia, btw terima kasih ya uda baca cerpenku walaupun cuma skimming. Terima kasih juga buat pujiannya.

  2. anggun on said:

    Love u papa….muchhhhh

%d blogger menyukai ini: