Joedha's Blog

Mempelajari berbagai keunikan kehidupan dan menuangkannya ke dalam lembaran blog ini

Ibuku Adalah Ayahku

“Kamu yakin mau ketemu Bapakmu?” kata Nenek.

“Aku enggak pernah seyakin ini, Nek. Setelah 20 tahun enggak melihat dia,” kataku.

“Nenek takut, kamu bakal kecewa. Nggak semestinya kamu diperlakukan seperti ini.”

“Apa pun risikonya, siapa pun dia, Bapak adalah bapakku,” kataku.

Setelah yakin melihat aku siap lahir maupun batin, Nenek akhirnya memberikan alamat itu. Ya, alamat tempat aku akan bertemu dengan Bapak, yang sudah 20 tahun tak pernah kuketahui wujudnya. Sampai aku sudah berumah tangga dan memiliki anak.

Kata Nenek, Bapak adalah sosok yang memiliki kepribadian yang berbeda dengan bapak-bapak pada umumnya. Aku pun tak naik pitam ketika Nenek mengatakan bahwa Bapak dengan tega meninggalkanku sejak aku bayi lantaran tertekan oleh suatu masalah, yang kata Nenek, aku bisa mengetahuinya setelah bertemu dengan Bapak.

Entah apa alasannya, selama ini Nenek selalu merahasiakan keberadaan Bapak, bahkan namanya aku tak tahu. Tapi, setelah Nenek memberikan alamat ini, ia memberi tahu bahwa nama Ayah adalah Mario.

Mungkin kalian bertanya, mengapa aku tak menyinggung soal Ibu. Ya, Ibu pernah merawatku selama lima tahun semenjak aku lahir. Juga sejak Bapak pergi meninggalkan kami. Tapi, sewaktu Ibu pergi, entah ke mana, selama beberapa bulan, setelah aku masuk sekolah taman kanak-kanak, Nenek tiba-tiba mengatakan bahwa Ibu telah meninggal. Nenek pun tak pernah mengajakku untuk sekadar melihat makam Ibu, bahkan melihat jasadnya setelah ia meninggal.

Sejak saat itu, sampai sekarang aku tak pernah bertanya lagi soal Ibu. Fokusku sekarang adalah di mana keberadaan Bapak. Sebagai seorang anak, sebenarnya aku harus marah kala Bapak meninggalkan kami. Seharusnya aku melaporkan dia ke Komnas Perlindungan Anak karena telah menelantarkan aku. Tapi aku tak mau masalah keluarga ini berkepanjangan kalau harus berurusan dengan lembaga itu. Aku ingin berjuang sendiri, meski aku sempat pasrah atas keadaan ini. Beruntung, Nenek, yang telah merawatku sampai sekarang, selalu menyulut semangatku untuk tetap menjalani hidup ini walau tanpa kedua orang tua.

*****

Setelah nyaris seharian aku berkeliling sekadar mencari alamat yang dituju, akhirnya aku merasa semakin dekat dengan keberadaan Bapak. Taksi yang membawaku tepat berhenti di depan sebuah gang sempit berhiaskan gapura, yang tampaknya dipasang saat perayaan 17 Agustus tahun lalu.

Aku mulai menyelusuri gang yang semakin ke dalam, semakin banyak anak kecil berkeliaran bermain dengan sebayanya itu. Satu per satu rumah, yang sepertinya lebih tepat disebut rumah kontrakan, kusambangi, lalu menanyakan alamat yang sedang kutuju kepada penghuninya.

Beruntung, beberapa dari penghuni rumah kontrakan itu tahu dan menjelaskan secara detail letak tempat sesuai dengan alamat yang kupegang.

“Mbak lurus aja dari sini, nanti sebelum mentok, ada belokan ke kiri. Nah, dari situ kayaknya enggak jauh. Tapi kalo Mbak-nya bingung, tanya aja sama warga di situ.”

“Terima kasih, Bu.”

Yang aku heran, semakin lama, jalan di gang ini semakin sempit. Kenapa Bapak betah sekali tinggal di daerah yang jauh dari nyaman seperti ini. Apa karena di sini Bapak tidak dikenal oleh penduduk sekitar? Ah, tidak mungkin. Jika kuperkirakan, setidaknya Bapak sudah tinggal di gang ini lebih dari 10 tahun. Sehingga tidak mungkin warga di sekitar sini tidak mengenalinya.

Sampai di belokan jalan sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh ibu tadi, karena tak mau lama tersesat, aku kembali bertanya kepada salah seorang warga.

“Maaf, Pak. Mau tanya, rumah nomor 25 A RT 05 RW 03 di sebelah mana, ya?”
“Oh, itu, yang dekat jembatan. Persis di depan musala,” kata pria paruh baya itu sambil menunjuk ke sebuah rumah.

Sebelum aku mengucapkan kata terima kasih, pria itu tampak mengernyitkan dahi dan mengatakan, “Memang Mbak ada perlu apa sama penghuni di rumah itu?”

“Mau silaturahmi aja, Pak,” kataku, “Bapak kenal sama penghuni rumah itu?”

“Kenal, tapi nggak begitu akrab. Tapi, kayaknya kalo udah jam segini, dia udah siap-siap pergi. Maklum, saya kan ketua RT sini, jadi harus tau siapa aja warga saya,” kata pria itu.

“Oh, kalo begitu saya harus segera ke sana sebelum dia pergi. Terima kasih, ya, Pak.”

Saat itu jam memang sudah menunjukkan pukul 05.45 sore. Entah kenapa, tiba-tiba aku merasa jantung ini mulai berdebar semakin kencang.

****

Saat aku tiba dan mengetuk rumah itu, sesosok wanita dengan tata rias, yang menurutku terlalu berlebihan untuk seorang wanita, muncul. Benakku sempat bertanya, apakah Bapak sudah menikah lagi?

“Cari siapa, ya?” tanya wanita itu.

“Apa benar ini rumah Pak Mario?”

Wanita itu diam sejenak sambil menatap tajam ke arahku.

“Anda siapa?” tanya wanita itu lagi, dengan nada heran.

“Saya Inka, anaknya,” aku menjawab.

Kali ini wanita itu benar-benar bergeming. Kulihat juga sebutir air mata dari sudut kedua bola matanya keluar dan perlahan menghapus eye-shadow yang terpapar di sekeliling kelopak mata itu.

“Inka?”

“Ya, saya Inka. Apa Ibu kenal saya?” tanyaku kepada wanita itu.

Wanita itu lantas menarikku masuk ke rumahnya, lalu menutup pintu.

“Kau benar Inka?” dia bertanya lagi sambil memegang wajahku.

“Iya. Apa saya mengenal Ibu?” tanyaku terheran-heran.

****

Setelah mendengar cerita dia, aku keluar dan berlari dari rumah itu sambil menahan isak tangis dan kebencian yang sangat. Tapi wanita penghuni rumah bapakku itu mengejarku.

“Menjauh dariku!” kataku, berteriak, saat berada di tepi jalan raya, kepada wanita itu.

“Ka, maafkan saya. Semua ini saya lakukan karena terpaksa. Karena sebuah sakit hati terhadap ibumu!” kata wanita itu.

“Jangan bawa-bawa nama Ibu! Ibu sudah meninggal!” kataku, semakin kesal.

“Ibumu belum meninggal. Ibumu adalah saya. Saya yang membesarkanmu setelah kamu lahir, meski cuma selama 5 tahun.”

Sungguh aku tak percaya atas apa yang dikatakan wanita itu.

“Jangan mengada-ada!”

“Ibu kamu menikah lagi beberapa bulan setelah kamu lahir. Dan sejak saat itu, saya dan Nenek yang membesarkan kamu.”

****

Di rumah wanita yang baru saja kukenal itu, wajahku masih digenangi oleh air mata. Perasaanku masih membuncah. Kali ini tak bisa kuhadapi realita ini. Wanita  itu tak lain adalah bapakku. Ya, ibuku, yang kata Nenek telah merawatku, adalah Bapakku, yang selama ini sering kupertanyakan.

Hanya karena sakit hati lantaran Ibu menikah lagi dengan pria lain, Bapak berubah menjadi seorang manusia yang selama ini keberadaannya selalu dikucilkan oleh masyarakat. Dia berubah menjadi seorang waria.

Aku tidak boleh marah atas apa yang telah dialami oleh Bapak. Semua itu manusiawi. Manusia memang punya pilihan dalam hidup. Tidak hanya dua, tapi banyak pilihan yang bisa ia jalani, asalkan ia tidak mengganggu dan meresahkan manusia lainnya.

Tapi, semenjak Bapak bertemu dengan aku dan Nenek, dia berubah menjadi seorang laki-laki yang sebenarnya. Dia menjadi seorang bapak yang dikodratkan memberi nafkah dan melindungi anaknya.

Mungkin di tempat lain, Ibu mengalami kehidupan sebaliknya. Ya, seharusnya aku sekarang membenci Ibu karena dialah yang membuat hidupku seperti ini. Tapi bagaimana pun, Ibu telah berusaha keras mengeluarkan aku ke dunia ini. Sehingga sepatutnya aku juga harus mencari di mana dia sekarang, meskipun pada akhirnya nanti suasana seperti saat aku bertemu dengan Bapak akan terulang.

Jakarta, 26 April 2010

Single Post Navigation

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: