Joedha's Blog

Mempelajari berbagai keunikan kehidupan dan menuangkannya ke dalam lembaran blog ini

Merangkai Pelangi

“Kau tahu, aku akan membunuh anak ini!”

Pelangi yang menyerupai api di birunya langit

“Jangan, Mas, itu darah daging kita.”
“Dia bukan anakku. Dia pasti hasil perbuatanmu dengan Ronggo itu!”
“Sudah berapa kali aku bilang, Mas, itu anak kita! Tidak ada sangkut pautnya dengan Ronggo.”
“Alah, alasan kamu saja biar kamu tetap berhubungan dengan dia.”

Malam itu semakin menegangkan, manakala Arbi semakin mengancam nyawa Rido. Warga sekitar pun mulai berkerumun melihat aksi Arbi yang sedang berada di atas genting rumahnya sambil menarik-narik kerah baju Rido yang sejak satu jam lalu menangis tak keruan. Begitu pula dengan Anis, istri Arbi, yang histeris melihat Rido, anaknya yang baru berusia 3 tahun, tergantung di tangan suaminya.

Sementara di bawah rumah mereka, keriuhan warga membuat keadaan semakin panik. Tak berapa lama Pak RT datang, setelah diberi tahu seorang warga mengenai situasi menegangkan ini.

“Arbi, jangan bodoh! Apa yang kau lakukan?” teriak Pak RT.
Pak RT lantas menyuruh anak buahnya untuk bersiaga di dekat rumah Arbi, bersiap-siap jika suatu saat Arbi melakukan hal yang tidak diinginkan terhadap anaknya. Meski begitu, Pak RT tetap membujuk Arbi untuk mengembalikan anak itu ke ibunya.

“Kalian jangan ikut campur! Ini urusan keluargaku!” teriak Arbi kepada kerumunan warga.

****

Malam itu, temaram malam memang mengaburkan pandanganku untuk menyaksikan sekelumit proses kehidupan ini. Sulit untukku mengikuti perjalanan ini ketika berada di tengah derasnya arus untuk mengikuti ke mana arah hidup mereka yang semakin matahari tenggelam, semakin jelas bayangan keborokan itu.

Mungkin ketika matahari mulai merangkak lagi, semua itu akan musnah. Terbakar oleh sengatan ultraviolet yang terus menguliti dan melumerkan segala busuknya kelakuan kita.

Tapi sekarang, jarum jam tampaknya sulit beranjak dari angka 10. Tidak hanya aku, bulan dan bintang pun menyaksikan dengan sedikit keengganan meski kegaduhan itu sempat membangunkan mereka. Daun dan ranting juga menyambut keramaian yang menegangkan itu dengan sedikit kengerian, karena mereka takut kelak menjadi korban.

Satu jam telah berlalu. Aku masih terpaku di balik terali jendela kamar di lantai dua rumahku menunggu saat-saat itu akan terjadi. Tapi ternyata mereka masih terus berseteru, juga mencoba merayu dengan segala petuah dan nasihat yang sebenarnya tidak perlu karena akan menghalangi harapanku terhadap apa yang akan terjadi.

Aku bosan dengan keteraturan hidup ini yang selalu kujalani dan kuhadapi setiap hari. Setiap kokokan ayam yang tidak hanya membangunkanku dan manusia lainnya, tapi juga membangunkan sang raja siang.

Aku bosan melihat kepura-puraan mereka yang selalu tersenyum setiap melihat orang lain berpapasan dengannya. Aku juga bosan dengan para pencari nafkah yang seolah menjadi budak harta demi membahagiakan hidup mereka dan keluarga untuk menjadi yang terhebat dan angkuh ketika mereka sudah berada di atas.

Aku ingin cerita keluarga itu berakhir tragis dan aku bisa menjadi saksi atas peristiwa itu. Lambaian daun-daun pepohonan itu seperti menandai bakal turun hujan. Malam semakin menampakkan dinginnya. Aku masih terpaku di balik terali jendela. Mataku seakan tidak ingin mengedip untuk melihat detik demi detik konflik yang sedang terjadi pada keluarga itu.

Imajinasiku semakin terjerembab ke dalam jurang pikiran-pikiran jahat untuk sekadar menghibur keinginan mereka agar anak itu terjatuh dan mati di rumah itu juga. Aku membayangkan sang ayah menjadi semakin beringas dan sang ibu menangis histeris ketika melihat anak mereka sudah tak bernyawa.

****

“Mas, aku akan melakukan semua pemintaanmu, tapi lepaskan Rido, Mas,” Anis memohon.

Tampaknya semua yang dikatakan Anis hanya sekelebat lewat di telinga Arbi. Dia sudah telanjur marah dan dendam melihat perbuatan asusila istrinya itu terhadap Ronggo. Tapi Anis terus-menerus membantahnya.

Pertemuan Anis dengan Ronggo sebenarnya hanya sekejap mata. Mereka mulai dekat sejak Ronggo menikahi Anis. Tapi pernikahan itu tidak pernah direstui orang tua Ronggo yang memang dari keluarga berekonomi tinggi. Klise memang, tapi Ronggo bersedia melakukan apa saja demi mendapatkan Anis.

Mereka sempat hidup bersama dengan ikatan suami-istri tanpa diwakili saksi dari pihak Anis. Maklum, kedua orang tua Anis sudah meninggal. Jadilah ia hidup sendiri hanya dengan kebaikan Ronggo.

Namun, kebersamaan Anis dan Ronggo tidak bertahan lama. Ronggo diculik sekelompok orang tidak dikenal dan mereka menyuruh Anis pergi sejauh mungkin, bahkan kalau bisa keluar pulau. Anis yang tidak berdaya karena tidak memiliki siapa-siapa, hanya menurut.

Anis kemudian mencoba merantau berusaha mendapatkan kehidupan baru di negeri orang. Di sanalah ia kemudian bertemu Arbi, seorang pria berperawakan tegap, yang bekerja sebagai mandor di sebuah proyek pembangunan rumah susun. Anis dan Arbi mulai akrab, hingga suatu saat mereka memutuskan untuk menikah.

Arbi, yang tidak mengetahui bahwa Anis sebelumnya pernah menikah di bawah tangan dengan Ronggo, tampak bahagia setelah mengetahui bahwa Anis sudah mengandung jabang bayi. Begitu pun Anis, yang tampaknya sudah melupakan kejadian-kejadian yang pernah ia alami bersama Ronggo.

****

Tiga tahun berlalu. Tanpa dinyana, saat itu, saat sedang berada di pasar bersama anaknya, Anis bertemu dengan sosok pria yang sepertinya pernah dekat dengannya.

“Mas Ronggo?” tanya Anis secara spontan ketika sosok pria itu berada di hadapannya dan membelakanginya.

“Anis? Ini benar kau, Anis?” ucap Ronggo setelah mendengar panggilan “tidak disengaja” Anis. Saat itu juga, Ronggo memeluk Anis di tengah keramaian pasar.

Anis lantas memaksa melepaskan dekapan Ronggo, lalu melarikan diri. Ronggo yang merasa terkejut atas sikap Anis, terus memanggil dan mengejarnya. Sampai mereka hampir sampai di rumah Anis, Ronggo pun menarik lengan Anis, mencoba meminta penjelasan atas hilangnya Anis saat Ronggo diculik sekelompok orang tak dikenal, yang ternyata adalah anak buah ayah Ronggo.

“Anis, dengarkan aku! Aku hanya ingin meminta penjelasan. Ke mana kau saat itu? Mengapa kau tiba-tiba menghilang?” tanya Ronggo sambil menahan langkah Anis.

“Mas, lepaskan aku. Kita sudah nggak ada hubungan apa-apa lagi.”

“Apa maksudmu kita sudah nggak ada hubungan lagi? Kau masih istriku, Nis.
Aku sudah berjuang mempertahankan cinta kita, sampai aku berusaha melarikan diri dari para penculik itu, untuk mencari kamu, tapi ternyata kamu malah menghilang!”

Sambil terus meminta penjelasan Anis, pandangan Ronggo tanpa sengaja tertuju kepada seorang anak kecil yang sedang digendong Anis.

“Ini pasti anakku. Ini pasti anak kita kan, Nis? Umur berapa dia sekarang?” tanya Ronggo seolah yakin kalau anak itu adalah anaknya.

“Ini Rido, Mas. Usianya tiga tahun. Tapi dia bukan anakmu, Mas!”

“Apa maksudmu? Tiga tahun yang lalu kita menikah. Aku yakin, saat kita terpisah, pasti kau sedang hamil. Ini pasti anakku! Rido, ini bapak, Nak. Sini, Bapak gendong.”

“Bukan, Mas. Ini bukan anakmu. Aku sudah menikah lagi sejak kita terpisah. Aku sudah punya suami lagi. Dia anakku dengan suamiku yang sekarang,” Anis mencoba menjelaskan sambil tersedu.

“Menikah? Kau menikah lagi?” ujar Ronggo bertanya-tanya.

Saat itu juga, tiba-tiba Arbi datang dengan memasang wajah sedikit marah karena melihat seorang pria mendekati istrinya sambil memaksa. Dia pun menghampiri mereka.

“Siapa dia, Nis?” tanya Arbi, meredam sementara amarahnya.

“Mas Arbi, ini Ronggo, te…man…ku,” Anis mengucapkan dengan terbata memperkenalkan Ronggo kepada Arbi.

“Ronggo, ini suamiku,” lanjutnya.

“Ada urusan apa kau dengan istriku?” tanya Arbi kepada Ronggo.

“Hei, Bung. Aku bukan temannya, tapi aku suaminya. Dan anak ini adalah anakku, bukan anakmu,” kata Ronggo sedikit menantang.

Setelah mendengar perkataan itu, amarah Arbi semakin memuncak. Dia sontak menonjok wajah Ronggo dengan kepal tangannya yang keras seperti konstruksi beton yang baru selesai dibangun. Mereka pun berkelahi, membenarkan prinsip masing-masing, demi membela harga diri dan mendapatkan orang yang dicintai.

****

Aku hanya memperkirakan dan mencoba merekayasa peristiwa yang melatarbelakangi terjadinya konflik di antara pasangan suami-istri itu. Pria itu terus menyebutkan nama Ronggo, sementara sang istri terus membantah tuduhan pengkhianatan yang ditujukan suaminya.

Aku juga tidak tahu apakah di antara mereka telah terjadi perselingkuhan atau perbuatan menyimpang lainnya yang menyebabkan konflik yang begitu mendebarkan ini. Atau mereka sudah bosan terhadap satu sama lain, hingga sang anak menjadi korban keegoisan masing-masing.

Aku tak peduli. Aku hanya ingin melihat hasil akhir dari konflik itu. Aku ingin melihat peristiwa yang benar-benar tragis terjadi di hadapanku.

Jika saja aku menjadi Arbi, aku akan melepaskan anak itu dan membuangnya ke sungai yang ada di sebelah rumah mereka, agar ia tenggelam dan kemudian meninggal terbawa arus. Atau, jika aku menjadi Anis, aku akan mengakui perbuatan bejatku kepada pria itu agar ia benar-benar melepaskan jeratan tangannya dari kerah baju anak itu, untuk dilempar ke sungai.

****

Saat aku sedang asyik menikmati percumbuanku dengan malam itu, terdengar suara ibu yang lembut dari balik pintu, memanggil-manggil namaku.

“Rido.”

Tak disangka Ibu sudah ada tepat di belakangku sambil mengusap-usap kepalaku dengan kelembutan seorang wanita yang telah membesarkanku dengan air mata dan penderitaan.

“Kamu belum ngantuk? Tidur yuk, udah malam.”

Aku selalu tidak bisa menolak apa yang ibu minta. Ucapannya seakan menghipnotis pikiranku untuk menurut kepadanya. Aku pun beranjak dari singgasana lamunanku untuk menuju kamar, tidur bersama ibu.

Di tempat tidur itu, aku terus menatap wajah ibu, yang sampai saat ini menurutku adalah seorang wanita paling suci yang pernah aku temui. Seperti seorang wanita yang belum pernah merasakan dicumbui pria, dengan wajah lelahnya tertutupi kecantikan yang keluar dari dalam jiwanya.

Aku tidak pernah berusaha menuntut apa-apa darinya, baik perhatiannya kepadaku, menyekolahkannku setinggi-tingginya, atau bahkan mencari tahu siapa sebenarnya ayah biologisku. Bagiku, Ronggo dan Arbi adalah ayahku. Mereka yang menciptakan alur imajinasiku untuk sekadar tahu apa yang pernah aku alami selama 14 tahun ini.

Jakarta, September 2009

Single Post Navigation

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: