Joedha's Blog

Mempelajari berbagai keunikan kehidupan dan menuangkannya ke dalam lembaran blog ini

Pangeran dan Kereta Kuda

Aliran sungai itu deras. Sangat indah bila aku berada di antaranya. Sekitar 3 jam aku berada di sini. Di atas jembatan ini. Tak satu pun orang yang lalu-lalang melihatku. Seperti sebuah kematian, yang tak pernah menyapa ketika manusia dirundung rasa. Seketika itu pula ia merenggutnya. Juga terhadap binatang-binatang yang tak berumur panjang. Seperti rangkaian temali yang terputus ketika mulai rapuh dan memipih.

Matahari masih terjaga, meski saat itu hari menuju senja. Sekumpulan burung pun tampak beterbangan setelah lelah mengais kisah. Padahal umur mereka tak sepanjang aku. Sedangkan aku di sini, hampir melawan siklus mimpi.

Dua pertiga hidupku adalah masa lalu yang tak berbatas waktu. Yang dalam perjalanannya, aku tak pernah paham akan goresan-goresan tinta kecil Tuhan. Seumur hidup aku tak pernah beranjak untuk menikahi semesta kata. Bahkan terhadap ucapan-ucapan keramat yang, kata orang, dapat menenangkan nurani.

Seorang wanita tua yang saban hari duduk bersimpuh di ujung jembatan ini, kira-kira 7 meter jaraknya denganku, pernah melontarkan kata-kata lewat bisikannya di telingaku, “Sungai yang ada di bawah jembatan ini keramat, tapi juga membawa hoki, asalkan kita tak mengganggunya.”

Benar saja, selama wanita itu menjadi pengemis di sini, banyak yang memberinya uang receh, bahkan sesekali lebih dari itu.

Aku berharap bisa seberuntung wanita itu, meski bukan dalam hal materi. Aku berharap dia datang. Menjemputku dengan kereta kuda. Bersama malaikat yang biasa melindungiku setiap bintang berpendar.

****

Mentari telah terbenam. Tapi mengapa aku tak seantusiastik malam-malam sebelumnya. Ketika dia datang menjemputku dengan iringan lampor. “Apa lantaran dia telat?” batinku bertanya. Andai wanita di ujung jembatan itu bisa memberi jawaban. Tapi tampaknya ia sudah lelah setelah menaruh asa pada segenggam tangannya sepanjang hari ini. Begitu pula burung-burung yang beterbangan itu, yang sudah tak kulihat lagi melayang-layang di kegelapan.

Lima jam sudah aku menunggu. Masih tak ada kabar. Wanita di ujung jembatan itu pun hanya bersandar. Tak segera pulang. Entah ia bersandar sekadar menemani malam atau memasrahkan dirinya untuk bersenggama dengan bulan. Itu pun tak terjawab.

Gaun cantik yang kukenakan ini sengaja kupakai untuk menyambut kedatangan dia. Bukan dengan alasan cinta. Ini tentang keenggananku merayu dia dengan lirik-lirik erotis yang melambungkan berahinya. Aku malas berkata-kata.

Dua hari yang lalu, dia menjemputku dengan kereta kuda itu. Tapi tanpa malaikat, seperti dua malam sebelumnya. Betapa semringah wajahku saat itu. Dia memegang tanganku, menciumi setiap lekuk tubuhku, dan kami pun hampir bercumbu. Tapi hal itu tak terjadi, lantaran aku mencegahnya sekadar menjaga keperawananku. Tapi dia tak menunjukkan amarahnya. Betapa kesabaran membatasi api-api yang tersulut itu.

Dia bahkan mencoba bersenandung–hal yang tak pernah kudengar dari mulut manisnya–dan setiap kata yang diucapkan sering membuatku bergelinjang. “Meski angin bergunjing dan rembulan bergumam, dengan melihat parasmu, semua itu seperti puisi surga yang seakan memberiku taman indah berhamparkan mawar. Izinkan aku tetirah bersamamu ke dunia yang lain yang hanya memberi senyuman, bukan cacian, agar aku bisa memberimu benih dan kita memiliki sejuta cinta tanpa nestapa.”

****

Malam melarut dan awan pun bergelayut. Hari ini Dewi Malam tampaknya tak memberiku restu. Semakin lama ia semakin hilang bersembunyi di balik kumulonimbus. Malam juga tak bisa mengendus kedatangan dia. Aku mulai cemas. Udara seperti memberi tanda akan membekukan kulitku. Juga angin yang berembus semakin cepat, membuatku merapat bersandar di dinding jembatan ini. Sambil terduduk dan membiarkan gaun indah ini ternoda oleh sapuan debu.

“Mengapa dia belum datang?” aku sedikit bergumam, bertanya, juga khawatir. “Apa memang dia tidak datang?”

Seketika itu pula gerimis datang. Gaunku basah. Segera aku beranjak dan membangunkan wanita di ujung jembatan itu.

“Bu, bangun, Bu, hujan, Ibu harus pindah. Nanti Ibu basah kuyup.”

Wanita itu tidak kunjung bangun setelah ku guncangkan tubuhnya. Ku bopong dia ke tempat teduh. Kilat dan petir terus bersahutan. Tak biasanya malamku seperti ini.

“Pangeran, kenapa kau tak kunjung datang. Aku kedinginan. Wanita tua ini juga tak bisa menemaniku. Entah kenapa dia tidak bangun-bangun.”

Hujan semakin deras. Wanita tua itu belum juga bangun. Gaun yang kupakai pun terlihat lusuh dan lepek terkena cipratan air hujan.

****

Suara gemerincing menyentil kedua daun telingaku dari kejauhan. Semakin lama semakin kencang. Semoga firasatku tepat, bahwa sebuah kereta kuda datang membawa sang pangeran.

Ah, betapa senangnya. Dia benar-benar datang. Ternyata perkataan wanita itu benar. Sungai di bawah jembatan itu memang keramat. Tiga kali aku berdiri di situ, tiga kali pula aku dijemput oleh dia. Kereta kuda itu tepat berhenti di hadapanku. Di hadapan senyumku. Dalam keadaan hujan yang menderas.

Senyumku mulai getir dan wajahku berubah pucat tatkala sang hamba mengabarkan bahwa Pangeran urung datang. Di tengah guyuran hujan dan dengan suara tersengal-sengal, aku memutuskan untuk ikut dan melihat keadaan Pangeran. Tapi sang hamba tak mengizinkan aku.

“Ini perintah Pangeran. Tidak usah ikut. Beliau cuma menitipkan pesan agar Putri tak perlu menunggunya. Untuk seterusnya,” sang hamba berucap.

“Apa alasan dia?” kataku.

“Pangeran akan menikah dengan wanita lain.”

Dengan segera kereta kuda itu melesat, jauh hingga tak terlihat oleh pandanganku. Secepat itukah dia berpaling? Aku seperti tak mengenal dia ketika sang hamba mengucapkan alasan-alasan itu. Kenanganku saat bersamanya ketika berada di dalam kereta kuda lenyap begitu saja tanpa pamit, tanpa jejak, bahkan tanpa suara.

****

“Sepertinya sungai itu sudah tidak keramat lagi,” wanita yang tertidur itu tiba-tiba terbangun dan membisikkan kata-kata, “Bangunlah dari mimpimu. Mungkin Pangeran tak ingin bertemu dengan kau, yang sekadar sebuah mimpi bocah miskin ingusan yang terlalu mengada-ada.”

Single Post Navigation

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: