Joedha's Blog

Mempelajari berbagai keunikan kehidupan dan menuangkannya ke dalam lembaran blog ini

Misteri Kehidupan Bagian 1

Sering tebersit dalam hati, untuk apa sih aku diciptakan di dunia ini? Sebenarnya apa tujuan Tuhan melahirkanku ke dunia? Apa agar aku bisa menyaksikan makhluk lainnya berperilaku? Atau sekadar melihat apa yang mereka lakukan supaya aku bisa seperti mereka?

Aku juga suka bingung sendiri, apa benar aku benar-benar hidup? Apa benar aku berada dalam jasad ini? Apa sekadar membuatku malu di depan makhluk sesama lainnya?

Sejak balita sampai di umur segini, aku memang merasakan pahit-getir hidup. Meski kadang merasa hal yang membuat bibir tersungging. Tapi setelah itu apa? Setelah aku mulai renta. Atau sampai aku tutup usia. Apa Tuhan benar-benar ingin membuatku merasakan itu? Tapi hingga kini aku tak membayangkan hal itu terjadi kepadaku. Sebab, yang aku pikirkan sekarang adalah bukan bagaimana saat aku renta atau hayat berakhir. Melainkan bagaimana aku menghadapi hidup setiap detiknya. Sebab, aku–juga manusia lainnya–tidak pernah tahu yang akan terjadi sepersekian detik ke depan. Itu semua perihal takdir.

Aku memang tak ingin menjadi makhluk yang paling istimewa di mata Dia. Tapi aku juga tak ingin menjadi manusia yang selalu tersudut oleh segala kekurangan. Selalu merasa bersalah ketika berbuat hal yang Dia larang. Juga tak ingin terperangkap dalam jasad yang salah.

Tapi aku juga tak bisa berbuat apa-apa. Semua kuasa ada di tangan-Nya. Aku cuma menyusuri garis takdir sesuai dengan aturannya. Kalaupun aku melanggar, Dia tak segan memberi segala hukuman yang membuat makhluknya jera, juga sadar bahwa segalanya sudah terpapar di papan takdir.

Mungkin aku dilahirkan tanpa ada kelebihan. Kalaupun aku sudah bekerja sekarang, itu lantaran terdesak oleh kehidupan orang-orang yang harus aku nafkahi agar napas mereka tetap panjang. Kalaupun aku telah menjalani bangku sekolah dan kuliah, itu karena tanggung jawab orang-orang yang telah memeliharaku. Kelebihan apa yang aku punya? Berkesenian? Indra keenam? Atau sesuatu yang berbau mistis? Tak satu pun ada dalam diriku. Kalaupun aku bisa seperti ini, ini bukan kelebihan, melainkan sesuatu yang aku pelajari. Memang semua bisa dipelajari agar bakatku terasah. Tapi untuk apa? Menyenangkan orang lain? Menghibur diriku sendiri? Atau Sekadar hukum alam?

Ya, mungkin dengan mempelajari itu semua, aku bisa memberi sumbangsih bagi keuntungan orang lain.

Sekarang pun, hasil kerjaku tak sepenuhnya ada di tanganku. Bahkan aku harus mengalah untuk tidak menikmati semua yang aku miliki. Ternyata sekarang aku baru sadar, aku memang hidup untuk menguntungkan orang lain. Bukan untuk kunikmati sendiri. Aku semakin yakin bahwa Tuhan menciptakanku ke dunia sekadar menunjukkan kepadaku, inilah hidup yang akan kau jalani, bukan untuk kaunikmati. Aku hanya manusia yang sebenarnya cuma ditugaskan melihat apa yang mereka lakukan, juga apa yang mereka perbuat kepadaku. Bukan menjadi salah satu makhluk yang dilahirkannya untuk menjalani siklus ini, meskipun aku terbawa menjalaninya juga.

Ya, aku tahu sekarang. Ternyata inilah misterinya. Mungkin kalian menganggapku sinting. Tapi ini memang sudah menjadi takdirku. Melihat manusia lainnya, bagaimana mereka hidup, dan mati.

Mungkin itu juga yang akan aku alami. Hidup dan mati. Meski aku tak tahu, apa benar nanti aku bakal mati. Masih banyak misteri yang dibuat Tuhan yang belum bisa aku pecahkan.

Berarti aku tak usah terlalu repot mengurusi apa yang aku miliki sekarang. Kalaupun semua musnah, aku memang tak ditakdirkan untuk menikmati kehidupan ini. Jadi untuk apa aku pusing memikirkan ini semua? Ternyata itulah yang membuatku tertekan selama ini. Sial!

Jakarta, 18 Mei 2011, 21.18 WIB

Single Post Navigation

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: